Berita dan pengajaran yang bertopik dari Indonesia oleh Pst Retno Palupi
Silahkan mengunjungi halaman ini secara rutin karena saya akan terus memperbaharuhi berita, pengajaran dan gambar secara rutin pula.
Untuk lebih jelasnya
silahkan menghubungi: klik di sini.
Hal Kekuatiran >>
SOH ROH KUDUS, TERIMA
KASIH !>>
3 ANDA, TERMAHAL DI
DUNIA ! >>
4 PENYEMBAH YANG BENAR >>
5 PEMBAWA PESAN >>
Ketika pikiran menangkap informasi tentang krisis global, langsung pikiran-pikiran negatif mengalir. Aduh, kalau di-PHK bagaimana? Aduh, kalau bisnis macet bagaimana? Aduh, kalau pemasukan menurun dan kebutuhan meningkat bagaimana? Kemudian disusul “Aduh, kalau ...” yang lain seterusnya. Akhirnya stress sebelumnya. Padahal belum tentu terjadi seperti apa yang dia pikirkan. Karena keadaan bisa berubah.
Itulah yang disebut kekuatiran. Sesuatu yang terus menerus berusaha dengan keras untuk menutup pikiran yang positif, mengerdilkan akal sehat, memicikkan pandangan ke depan. Sehingga harapan menjadi pupus dan kekuatan lunglai, menutup kesempatan dan hancur tanpa dihancurkan.
Sedasyat itulah kuasa kekuatiran. Karena tempat yang memproduksi kekuatiran tersebut adalah tempat yang seharusnya untuk perenungan Firman Tuhan. Sebagaimana Allah telah menciptakan kita segambar dan serupa dengan Allah sendiri. Dalam terjemahan lain sesuai dengan imaginasi Allah. Jadi, Allah memberikan tempat untuk berimajinasi tentang segala sesuatu yang dari Allah dan tentu saja Firman-Nya juga.
Betapa jauh lebih luar biasa kalau imaginasi ini dipakai untuk merenungkan Firman Tuhan !
Inilah kenapa Tuhan memberikan perintah untuk tidak kuatir. Berkali-kali dalam Mat 6 : 25 – 34 Tuhan melarang kita supaya tidak kuatir. Bahkan disertai berbagai alasan yang sangat masuk akal untuk menyakinkan kita bahwa Allah sangat memperdulikan kita sehingga tidak ada tempat bagi kekuatiran.
Larangan yang kuat tersebut sebagai akibat dari sikap yang menjadi kecenderungan hati manusia terhadap (Ayat 25: Karena itu .... adalah sambungan ayat 19 – 24):
1. HARTA.
Orang mudah berjuang mati-matian untuk menimbun harta di dunia yang tidak kekal. Padahal seharusnya dia lebih memikirkan harta surgawi, kehidupan yang kekal.
2. MATA (visi – imaginasi) – kemampuan atau suatu pengertian untuk melihat ke depan melampaui apa yang kita hadapi.
Ketika seseorang dalam kegelapan, cara memandang segala sesuatupun gelap sehingga tidak bisa mengerti hal-hal yang rohani.
Padahal seharusnya dia hidup di dalam terang supaya bisa melihat segala sesuatu dari kaca mata Tuhan.
3. MENYEMBAH 2 TUAN.
Ketika terbentur masalah harta atau kebutuhan hidup dan keadaan yang kita lihat, orang mudah meninggikan sesuatu, lebih dari pada Tuhan.
Padahal seharusnya Tuhan menjadi Tuhan dalam hidup kita, yang tertinggi mengatasi segala sesuatu.
Kalau kita mempunyai sikap yang benar dalam 3 hal ini maka kita pun akan mudah mengatasi kekuatiran.
Alkitab mengajarkan kita bahwa kita tidak punya alasan untuk kuatir. Karena Tuhan selalu memberi kesempatan. Tangan Tuhan selalu terentang lebar, terbuka untuk setiap hal yang kita utarakan. Tangan-Nya tidak terlalu panjang untuk memberikan pertolongan tepat pada waktunya. Keadaan bisa berubah tetapi perubahan tidak akan terjadi kalau hanya berhenti pada niat saja, harus disertai tindakan. Itulah sebabnya bagi orang yang sudah menunggu atau siap (yang mempunyai visi, harapan, melihat ke depan, ) – yang akan mempunyai kesempatan.
Seperti sebuah kapal di jaman tempo dulu, harus menunggu laut pasang supaya bisa berlabuh. Keadaan menunggu inilah dalam bahasa latin disebut : opportu (opportunity), kesempatan yang tidak akan lama dan tidak sering.
Demikian juga tindakan yang harus kita lakukan untuk melihat suatu perubahan dan sekaligus menghancurkan kekuatiran dengan melibatkan Tuhan dalam mengasah hati kita melalui iman dan bersandar pada Tuhan. Dalam bentuk nyata adalah (Mat 7: 7-11) :
1. MEMINTA.
Bukan hanya meminta tetapi meminta terus menerus. Alasan seseorang meminta karena :
a. Mempunyai kebutuhan.
b. Mengerti bahwa Tuhan yang bisa memenuhi. Hal ini menunjukkan pengenalan akan Tuhan atau keintiman dengan Tuhan. Adalah hal yang lumrah apabila seseorang meminta, hanya kepada orang yang kita kenal saja.
2. MENCARI.
Suatu kesadaran yang penuh untuk menemukan sesuatu yang penting. Suatu sikap terhadap sesuatu yang mengandung nilai tinggi. Suatu ketergantungan yang harus terpenuhi kalau tidak akan merasa kehilangan. Seperti inilah sikap hati kita kepada Tuhan.
3. MENGETUK.
Suatu tindakan untuk mencari pintu yang layak untuk diketuk. Dalam kehidupan ini, banyak pintu yang harus kita buka.
Pintu yang tertutup adalah kesempatan yang seharusnya kita ada di dalamnya. Oleh sebab itu kita harus mengetuk pintu tersebut supaya terbuka. Kesempatan itu akan kita dapat apabila kita terus mengetuk dan tidak menyerah.
Jadi, mari kita mengubah pikiran kita bahwa kekuatiran akan membunuh kreatifitas, harapan, dan keiginan kita. Kita yang harus membuat kesempatan untuk diri kita sendiri karena Allah sudah memberikannya.
OH ROH KUDUS, TERIMA KASIH ! (Oh My Holy Spirit, Thank You)
Jam 22.00 kurang 10 menit, ketika awak pesawat mengumumkan sebentar lagi akan mendarat, kami pun bersiap-siap. Dengan sedikit lega, karena 10 menit lagi kaki kami akan menyentuh bandara Ngurah Rai, Denpasar, setelah terbang 45 menit dari bandara Adisucipto Yogyakarta.
Namun, bukannya turun, tetapi kami justru merasa dibawa naik dengan kuat, lalu kami terhempas ke bawah secara tiba-tiba. Kemudian naik lagi dan seperti terlempar ke depan lalu terhempas ke bawah lagi. Sementara dari kaca jendela, terlihat di kejauhan petir menyombongkan kilatnya. Maklum musim hujan.
Selama 20 menit, alam mempermainkan pesawat kami. Tidak karuan emosi seluruh penumpang pesawat kami yang sebagian besar adalah orang asing. Setiap hempasan membuat penumpang yang perempuan menjerit, menambah suasana semakin mencekam. Bahkan terdengar lirih tangisan sepasang suami-istri yang membawa 2 anaknya yang masih kecil-kecil. Tidak ada satupun yang berkutik malam itu. Ketakutan menggumpal menyesakkan nafas.
Suasana yang tadinya penuh canda tawa, cekikikan riuh berubah total menjadi terpaku, bisu. Kulirik mimik beberapa penumpang tegang, kaku. Ketika berpapasan mata, kulempar senyum, pandangannya tetap kosong. Mereka tidak peduli satu sama lain, karena merasa keselamatan mereka seperti telur di ujung tanduk.
Mungkin mereka berpikir, ini adalah detik-detik terakhir hidupnya, saat-saat meregang nyawa. Mungkin mereka sedang mengaku dosa. Mungkin mereka sedang pasrah kepada Sang Penciptanya yang mungkin sudah lama tidak dihiraukan. Yang tadinya tidak pernah berdoa, mendadak berdoa. Yang tadinya tidak percaya ada Allah yang Maha Kuasa, sekarang mau tidak mau harus meminta pertolongan-Nya. Semua orang di situ menyadari tidak ada satupun yang bisa menolong kecuali Sang Penguasa Alam.
Sesaat suasana itupun seperti mencengkeram hatiku. Namun, kesadaran bahwa Roh Kudus selalu menyertai kita, mampu menepis galau saat itu. Memang, keadaan tidak nyaman karena hempasan-hempasan yang kuat tersebut. Tetapi jauh di dalam hatiku nyakin bahwa kita akan selamat karena panggilan Tuhan dalam hidupku belum selesai, dan sebelum berangkat aku serta mungkin penumpang yang lainnya juga sudah menyerahkan pesawat kami dalam perlindungan Tuhan Yesus.
“Tuhan Yesus tolong kami” doa yang mampu meredamkan kekuatiranku di tengah keadaan yang genting tersebut.
Dalam Yohanes 14: 16 – Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu SEORANG PENOLONG yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya yaitu Roh Kebenaran. ...
Sekalipun Tuhan Yesus sudah ada di surga, tetapi Roh-Nya tetap tinggal menyertai kita sebagai Penolong. Kata Penolong dalam bahasa Yunani (parakletos) berarti seorang yang dipanggil agar senantiasa menyertai orang lain untuk menolongnya. Kata ini berarti juga : Penghibur, Penasehat, Pendoa-Syafaat, Pengacara, Pemberi Kekuatan, dan Seorang yang senantiasa siap siaga.
Oh Roh Kudus, Terima kasih ! Engkau selalu siap siaga untuk menolong ! Akhirnya jam 22.10 kami siap mendarat. Begitu pesawat berhenti, tidak karuan, semua penumpang bertepuk tangan, dan tertawa lepas sambil bercerita pengalaman batin mereka.
Menapaki kota Denpasar kembali, seperti meyiratkan: menapaki tahun 2009 ini, yang kabarnya pengaruh krisis global akan semakin terasa, sarat dengan kekuatiran yang akan mudah membekukan ketakutan.
Puji Tuhan, kita punya Seorang Penolong ! Seperti taxi yang dengan lancar membawaku ke rumah Gang Bedugul Putih II, Diapun akan melewatkan kita dalam tahun ini dengan lancar, membawa kita pada penggenapan janji yang Allah sudah tetapkan.
ANDA, TERMAHAL DI DUNIA ! (You, The most expensive in the world)
Lama kelamaan tak terdengar suara manusia dan binatang ternak. Berarti semakin jauh dari perkampungan. Sesekali terdengar suara burung di kejauhan dan sayup-sayup suara binatang-binatang yang tidak dikenalnya. “Mungkin ini hutan”, pikirnya. Lalu mulai terasa sejuk, dingin mulai menelusup pori-pori kulitnya, ketika jalan mulai menanjak. “Pasti ini bukit”, itulah yang dirasakannya. Tapi entah hutan dan pegunungan mana tidak tahu, karena matanya ditutup.
Pada suatu tempat, dia berhenti dan berdiri di situ. “Uuuooo...!” Seperti bunyi sangkakala yang panjang, suatu pertanda bocah13 tahun ini harus membuka penutup matanya. “Hah ... !!! Aku sendiri ! Bapakku mana ? Aku makan apa ? Aku minum apa ? Aku tidur di mana ? Aku mau pulang lewat mana ? Aku pasti mati untuk pesta kawanan srigala atau beruang ! Ini benar-benar penyiksaan. Mereka tega sekali membunuh aku seperti ini” Pikiran-pikiran negatif terus bergulir dari benaknya.
Tetapi tiba-tiba, dia ingat perkataan bapaknya bahwa alam adalah sahabatnya. Lalu, dia bangkit dan mulai berjalan, dia harus mengenali alam yang sama sekali tidak dikenalnya. “Sahabat berarti baik” hiburnya sendiri. Sambil mencari jalan untuk pulang, dia mengamati sekelilingnya. Seluruh panca inderanya dikerahkan sebagai radar terhadap bahaya. Dia mencoba bertahan hidup dengan apa yang dapat dia makan dan minum di situ.
Setelah jauh berjalan, dia terperanjat, dari kejauhan terlihat sebuah sosok siluet laki-laki dengan busur dan anak panah serta persenjataan yang komplet. Anak ini mengatur langkahnya mengendap-endap, mengamati dari jauh, siapakah gerangan yang berdiri tegap di sana, musuh atau teman.
Ketika matahari bergeser ke tengah, sosok itu jelas terlihat. Ternyata Bapaknya! Melalui penjelasan Bapaknya, anak ini tahu, bahwa dia sedang melakukan ritual akil-balik. Bagi anak Indian yang sudah berumur 13 tahun, akan dilatih menjadi laki-laki. Dengan dilepas di hutan untuk mengasah ketahanan hidup dan kepekaan naluri. Selama pelatihan tersebut, bapaknya ikut serta mengawasi tanpa sepengetahuan anak itu untuk menjamin keselamatannya. Sewaktu anak itu mendekati bahaya, bapaknya membuat sesuatu yang mengalihkan perhatiaannya sehingga anak tersebut dengan sendirinya terhindar dari bahaya.
Di mata Bapak Indian itu, anaknya sangat berharga karena dia mengerti tujuan hidup anaknya. Inilah alasan kenapa ritual akil balik ini dibuat untuk mempersiapkan anaknya di kemudian hari. Selama pembentukan ini bapaknya tidak pernah jauh tetapi selalu mendampingi.
Hal yang sama pula, Tuhan lakukan dalam diri kita, anak-anaknya. Tuhan mengerti betapa berharganya kita dan panggilan kita. Itulah yang membuat Tuhan mempersiapkan kita. Dalam pembentukan yang kita sebut PEMURIDAN ini, Tuhan selalu berjaga-jaga, melihat dan menjaga kita tanpa kita sadari. Seolah-olah Tuhan jauh, padahal dekat. Seolah-olah Tuhan tidak perduli, padahal selalu mengawasi. Seolah-olah menyengsarakan, padahal untuk kebaikan kita.
Pemuridan ini untuk memancarkan terang Allah dalam hidup kita karena Allah memanggil kita untuk menjadi terang dan garam dunia. Dengan demikian, ketika terang ada maka kegelapanpun akan sirna. Karena, gelap tidak ada yang independen, sangat tergantung terang. Gelap tidak pernah muncul, hanya ada karena akibat terang absen.
Jadi, panggilan kita terhadap dunia sangat besar. Kasih Allah begitu besar kepada kita. Dia tidak menginginkan kita binasa tetapi kita memperoleh hidup yang kekal. Untuk inilah Dia memberikan anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus.
(Yoh 3: 16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anaknya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadanya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal).
Betapa Allah menghargai kita sampai Dia memberikan yang terbaik yang Dia miliki. Dia menjadikan kita seharga dengan Yesus. Kalau Yesus ditinggikan di atas segala nama di muka bumi, yang bertahta di sebelah kanan Allah Bapa di surga, Raja di atas segala raja, betapa mahalnya kita.
Tidak hanya berhenti di situ, Tuhan Yesus tetap bekerja untuk kita. Dia melihat dan bersyafaat untuk kita (Yoh 17: 1 - 26 ), supaya kita mendapat :
1. PERLINDUNGAN TUHAN.
Seperti seorang Body Guard yang berjaga-jaga, selalu mengawasi dan siap siaga untuk melindungi kita, demikianlah yang Tuhan lakukan untuk kita.
2. PENGUDUSAN KITA.
Kita dikuduskan oleh karena kebenaran. Jadi, kita dibenarkan bukan karena apa yang kita lakukan melainkan karena kita melakukan kebenaran. Seperti Abraham yang tidak punya dasar untuk percaya namun dia tetap percaya. Demikian juga kita, sewaktu kita taat Firman Tuhan – percaya dan melakukan Firman Tuhan, maka kita dibenarkan. Berarti ini menyangkut sikap hati yang setuju dengan Firman Tuhan.
3. KITA BERSATU.
Seperti Bapa – Anak – Roh Kudus adalah satu, demikian juga kita seharusnya mempunyai kesatuan yang kuat.
Dengan melihat apa yang Bapa lakukan untuk kita, betapa kita tersanjungnya. Namun bagaimana kita menyikapi ini semua ?
1. Siapakah yang lebih tinggi dari Yesus di muka bumi ini ? Adakah sesuatu yang lebih mahal dari Yesus di dunia ini ? Jadi, kalau kita dihargai seperti Yesus, siapa yang lebih mahal dari pada kita ? Dan kalau jemaat terdiri dari orang-orang yang berharga, betapa mahalnya jemaat ? Apakah kita bisa tega menghancurkan barang yang mahal – jemaat yang sangat berharga ? Apakah kita sanggup menyakiti jemaat ? Ataukah kita memberi yang terbaik, menghargai sesuatu yang mahal – jemaat Allah ?
2. Apakah ada kemuliaan dan kasih yang lebih besar dari yang Allah berikan seperti dalam Doa Yesus (Yoh 17) ? Kalau segala sesuatu – berapapun – seperti apapun, yang dapat kita berikan kepada Tuhan – tidak akan pernah sebanding dengan kemuliaan yang Tuhan berikan nanti – apakah kita masih bisa hitung-hitungan dengan Tuhan dan rumah-Nya ?
PENYEMBAH YANG BENAR (True Worshiper)
Kisah satu babak dalam Yoh 4: 4-26 ini membidik pusat hidup kita. Dialog antara Yesus dengan perempuan yang mengucilkan diri (karena mengambil air pada siang hari yang berlawanan dengan adat perempuan kala itu yang mengambil air pada pagi hari, suatu kesengajaan yang dibuat untuk menutup diri dari lingkungannya karena keberadaan dirinya yang melangkar norma dalam masyarakat - Ayat 6c) ini membeberkan bahwa pusat hidup kita sebagai inti dari keagamaan kita adalah penyembahan. Hal ini terjadi karena seseorang akan mengindentifikasikan dirinya terhadap siapa yang kita sembah. Kebenaran ini tertuang dalam ayat 13-14: penyembah yang salah seperti seorang yang minum dan tidak pernah terpuaskan, akan selalu haus. Sebaliknya penyembah yang benar seperti seseorang yang memiliki sumber mata air, yang selalu memancar. Ada sesuatu dari kita yang terus mengalir.
Hal ini diperlihatkan dengan perempuan tersebut. Dia juga seorang yang beragama, memiliki kenyakinan. Dia menyebut “bapa kami Yakup” (ayat 12) berarti dia mengerti kitab Perjanjian Lama. Perempuan itu juga menyembah di gunung secara turun-temurun (ayat 20 dan 22). Namun toh, hidupnya tetap mengalirkan : ketakutan, perasaan malu yang terpendam, kesepian, rendah diri (terlihat dia menghindari pertemuan dengan orang lain, dengan mengambil air di siang bolong), pemberontakan (dengan melanggar norma dan moral yang pada saat itu memiliki konsekuensi yang tidak ringan), batin yang merana dan tidak ada kepuasan hidup (hidup berganti-ganti pasangan dan pernyataannya yang tidak ingin haus lagi).
Dengan jeli, bidikan Yesus tepat mengenai sasaran, hatinya, pusat penyembahannya. Sekaligus memperlihatkan bahwa penyembah bukan hanya sesuatu yang tampak. Bukan masalah kegiatan keagamaan, bukan lagu yang dinyanyikan, karunia, talenta, tetapi lebih jauh dari itu yakni mata air yang ada di dalam diri kita, masalah personal, eksistensi, pribadi, siapa diri kita. Inilah yang membuat kita akan mirip dengan sesuatu yang kita sembah karena apa yang akan kita sembah ini yang akan menguasai dan tertinggi dalam hati kita dan yang akan termanifestasi keluar.
Dialog satu babak ini memperlihatkan bahwa sebenarnya banyak orang yang beragama tetapi tanpa hakiki keagamaannya. Banyak orang menjadi pegiat kekristenan tanpa hakiki kehidupan kekristenan itu sendiri. Banyak yang menyembah Allah tanpa hakiki penyembah.
Itulah sebabnya Yesus berkata di ayat 23 bahwa Dia menghendaki penyembah yang benar. Kata menghendaki dalam terjemahan lain berarti mencari, berarti sesuatu yang susah, yang tidak mudah, bukan sesuatu yang otomatis ada, dengan kata lain ada penyembah yang salah. Yesus mencari penyembah yang benar yaitu menyembah Bapa dalam Roh dan Kebenaran.
Jadi, penyembah yang benar selalu menyembah Bapa di dalam Nama Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus. Dia akan menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Raja dalam hidupnya. Yesus akan berada di tempat yang tertinggi dan berdaulat penuh atas seluruh areal kehidupannya. Penyembah yang benar akan selalu dalam Roh, bukan kedagingan tetapi berjalan dalam Roh Kudus, di bawah pengurapan dan pimpinan Roh Kudus. Penyembah yang benar akan selalu berada dalam kebenaran. Dia akan menjadikan Alkitap sebagai kebenaran dan dasar kehidupannya.
Kehidupan seorang penyembah yang benar terlihat dalam diri Abraham kalau kita menilik Kej 22: 1- . Terdapat 5 elemen penting dalam penyembahannya :
1. PEWAHYUAN
Dalam Ayat 2 : Tuhan meminta kepada Abraham, supaya anaknya yang tunggal dipersembahkan sebagai korban bakaran.
Karuan saja, pasti Abraham tersentak. Mungkin semalam tidak bisa tidur karena sebuah pernyataan besar menghantui benaknya: “Bagaimana mungkin Allah yang berjanji akan memberi anak, lalu setelah menunggu 25 tahun untuk mendapatkannya, anak itu diambil Tuhan kembali?” Mungkin itu dewa Molok, yang selalu meminta anak untuk dikorbankan. Abraham dalam persimpangan jalan yang sangat tajam malam itu. Mungkin malam itu menjadi mimpi buruknya. Detik-detik yang menegangkan.
Namun, Abraham sudah kadung percaya penuh kepada Allah sebelumnya. Dia percaya perkataan Tuhan. Jadi, apapun yang Allah katakan meskipun mungkin tidak masuk akal, Abraham akan tetap menaati. Terbukti, pagi harinya Abraham sudah melakukan apa yang Allah minta. Pengenalan Abraham kepada Tuhan membuat cara berpikirnya berubah sehingga Perkataan Tuhan kepada dirinya membuat pencerahan terhadap keterbatasan logikanya.
Demikian juga kita, cara berpikir kita harus berubah. Inilah pentingnya pewahyuan bagi kita. Tanpa wahyu, kita akan liar / binasa / kadalu warso sehingga keagamaan kita tidak berfungsi. Siapa yang kita sembah sangat mempengaruhi cara berpikir kita. Kalau kita berpikir Allah kompromi maka kita juga akan kompromi. Kalau kita berpikir Allah mengasihi maka kita pun juga akan mengasihi.
Dan cara berpikir yang benar adalah memenuhi pikiran Kristus yang terdapat dalam Firman Tuhan. Jadi wahyu kita dapat sewaktu kita membaca, mempelajari dan tenggelam dalam Firman Tuhan.
Ada sebuah cerita kuno di Yunani di mana seorang dewa meminta anak Urban yang sudah besar dan siap menerima warisan sebagai persembahannya. Sesudah itu, di kemudian hari dewa lain meminta istrinya sebagai persembahan. Lalu kata istri Urban setelah dipersembahkan kepada dewa : “Seandainya ada sesuatu yang lain yang bisa kita sembah, kamu tidak perlu korbankan anak-istrimu”.
Cerita ini memperlihatkan bahwa penyembahan kita membentuk perilaku kita juga. Dengan demikian seorang penyembah memerlukan pewahyuan dari Firman Tuhan. Tanpa pewahyuan kita hanya pegiat agama, dan tidak ada kehidupan Yesus di dalamnya. Kekristenan kita hanya akan menjadi bentuk atau hukum tanpa kasih sebagai wujud ekspresi hati kita kepada Tuhan.
2. PERSIAPAN
Ayat 3: Abraham memasang pelana keledainya, membelah kayu untuk membakar korban dan mengajak bujangnya.
Sesudah mendapat pewahyuan kita perlu persiapan, sehingga penyembahan kita bukan asal-asalan, atau seadanya. Namun kita mengkhususkannya baik diri kita, tempat maupun waktu dan segala sesuatu yang mendukung karena dalam hal ini konsentrasi sangat membantu. Seperti kata Paulus bahwa ibadah itu perlu dilatih.
3. PEMISAHAN
Ayat 4-5 : Abraham menyuruh bujang-bujangnya menunggu di kejauhan. Dia dan Ishak saja yang pergi ke tempat persembahan korban. Setelah selesai baru mereka akan kembali kepada bujang-bujangnya. Mereka hanya ingin bersama Tuhan saja tanpa interupsi dari luar, tanpa ada gangguan.
Setelah semua yang kita perlukan dalam penyembahan siap maka kita perlu pemisahan. Kita memfokuskan diri hanya kepada Tuhan supaya tidak terganggu seseorang atau hal-hal yang lain, sehingga privasi kita dengan Tuhan terjaga, menjadi esklusif : hanya Tuhan dan kita.
4. DEDIKASI
Ayat 6-10 sebagai mana layaknya sebuah domba yang akan dikorbankan, demikian juga Abraham memperlakukan Ishak. Abraham menyerahkan secara total hidup dan kehidupannya hanya kepada Tuhan.
Dalam penyembahan memerlukan sikap yang benar, yakni dedikasi. Suatu sikap penundukan diri dengan sukarela, tidak kompromi, berupa penyerahan diri yang total untuk mengabdi, dengan sebuah tujuan yang selaras dengan kehendak orang yang kita mendedikasikan hidup kita.
Sebagai penyembah yang benar kitapun mesti mendedikasikan hidup kita kepada Tuhan. Kita harus mengerti tujuan Tuhan dan membuat diri kita selaras dengan tujuan tersebut. Jadi, untuk mendedikasikan hidup kita kepada Tuhan kita perlu menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Tuhan. Kita memberikan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya dan tidak mengambilnya kembali, 100% kita lepaskan untuk Tuhan. Inilah penghormatan kita kepada-Nya.
5. PROKLAMASI
Ayat 11 - 14: Setelah Abraham menaati apa yang diperintahkan Tuhan, Dia menggantikan apa yang Abraham beri. Inilah merci, Tuhan menggantikan (grace, nenerima apa yang tidak layak kita terima). Dan, untuk pertama kalinya Abraham menyatakan Yehovah Jireh (TUHAN menyediakan).
Akhir dari penyembahan kita adalah kita akan memproklamasikan siapa Allah yang kita sembah karena Dia telah melakukan mujijat dan memperhitungkan apa yang kita telah berikan sebagai ekspresi iman (Iman ini terlihat di ayat 7-8, sewaktu Ishak bertanya kepada Abraham di manakah domba yang akan dikorbankan, karena dia melihat tidak ada domba. Namun, Abraham menjawab bahwa Allah akan menyediakan domba tersebut yang notabene memang belum ada) dan ketaatan kita. Ada pujian yang akan keluar dari mulut kita.
Penyembahan kita tidak akan sia-sia karena Tuhan akan membuat sesuatu kepada kita :
1. PEMULIHAN.
Hubungan Abraham dan Ishak dipulihkan setelah melewati peperangan batin keduanya. Sewaktu kita dipulihkan, hasil yang sangat terlihat adalah kita mempunyai kemampuan berhubungan satu dengan yang lain. Semua hubungan menjadi pulih. Dan, pemulihan-pemulihan dalam area yang lain dalam hidup kita.
2. KONFERMASI.
Janji Allah bahwa Abraham akan menjadi bapa segala bangsa dikonfermasikan kembali. Demikian juga akan ada peneguhan-peneguhan atas janji-janji Allah dalam hidup kita.
Allah tidak akan berubah, Dia juga akan lakukan hal sama kepada para penyembah-penyembahnya.
Gal 1: 11-24 adalah ungkapan hati Paulus dalam menyikapi panggilan hidupnya. Kalimat-kalimatnya menyiratkan bahwa dia menjunjung tinggi panggilan tersebut, siapapun dan bagimanapun dia, panggilanya adalah memberitakan Yesus, PEMBAWA PESAN (ayat 16: ... supaya aku MEMBERITAKAN Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi ...).
Di mata Paulus panggilan sebagai PEMBAWA PESAN INI BERHARGA karena :
1. Tuhan telah memilihnya sejak dari kandungan ibu (Ayat 15).
2. Berdasar kasih karunia-Nya (Ayat 15).
3. Kesukaan Allah (Ayat 10).
4. Sebagai hamba Kristus, dia mau berkenan kepada-Nya (Ayat 10).
5. Pesan dari Allah (Ayat 11).
6. Pernyataan dari Kristus bukan diterima dari manusia (Ayat 12).
7. Allah melihat panggilan kita lebih besar daripada latar belakang hidup kita (Ayat 13-14).
Terhadap panggilan tersebut sikap Paulus : TAAT, tidak meminta pertimbangan kepada manusia tetapi langsung dilakukan bahkan telah menjadi gaya hidupnya (Ayat 16-24).
Dari cara pandang Paulus ini, kita bisa melihat Allah telah menandaskan kepada kita, bahwa PEMBAWA PESAN sebagai pemberita kabar baik-Nya, bukan suatu pilihan atau suatu keistimewaan seseorang melainkan sesuatu yang sudah ditetapkan Allah sejak kita dalam kandungan. Tujuan hidup kita sudah digaris bawahi, baik di atas profesi apapun maupun dalam kondisi apapun. Seperti Paulus, diatas kehidupannya yang keras sebagai penganiaya jemaat, Tuhan akan tetap mengembalikan dia pada garis bawah hidupnya.
Hal yang sama dalam hidup kita. Apapun latar belakang, keadaan, profesi, kepribadian, talenta kita dan lain sebagainya, kita tetap mempunyai panggilan yang sama yaitu sebagai PEMBAWA PESAN dari Tuhan. Alkitabpun meminta respon yang sama seperti Paulus, taat dan sebagai hal yang berharga karena itu prakarsa dari Allah sendiri.
Dari Paulus kita bercermin sikap dan cara pandang yang benar terhadap PEMBAWA PESAN, sedangkan untuk cermin kriteria PEMBAWA PESAN itu sendiri kita melihat kehidupan Andreas. Meskipun di dalam Injil hanya disebut 6X saja, Andreas mempunyai teladan yang menonjol.
Teladan Andreas ini akan memberikan efektifitas dalam memberitakan Injil atau Kabar Baik yang adalah tugas PEMBAWA PESAN. Kriteria tersebut sebagai berikut :
1. FASILITATOR
(Yoh 1: 35-42)
Andreas membawa Simon Petrus kepada Yesus. Dan, Yesus bekerja dalam hidup Simon, mengubah dan memberikan arah hidupnya. Andreas memfasilitasi Simon untuk bertemu dengan Yesus.
Sebagai PEMBAWA PESAN pun kita juga harus memfasilitasi orang lain untuk datang kepada Yesus supaya mereka menemukan tujuan dan perubahan hidupnya juga.
Karakter seorang fasilitator:
1. Hasrat untuk mengenal Tuhan lebih lagi (Ayat 35 – 40).
Pada awalnya Andreas adalah murid Yohanes pembabtis. Namun, ketika Yohanes menyuruh untuk melihat Yesus sebagai Anak Domba Allah, maka Andreas langsung mengikuti Yesus. Bukan hanya itu saja, Andreas mencari tempat tinggal Yesus dan hari itu juga dia tinggal bersama-Nya.
Karakter inipun juga harus mengawali kita untuk memfasilitasi orang lain datang kepada Tuhan.
2. Kenyakinan yang penuh akan Yesus (Ayat 41).
Andreas mendengar dari Yohanes bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah (Ayat 36). Namun, setelah dekat dengan Yesus sendiri, dia mengatakan Yesus adalah Mesias (Ayat 41). Memang benar apabila seseorang semakin dekat dengan Tuhan, maka dia akan semakin mengenal-Nya, sehingga semakin menumbuhkan kenyakinan yang penuh karena urapan Allah akan mengalir. Dengan urapan inilah Andreas mampu mengajak Simon Petrus dengan penuh kenyakinan.
2. KOMUNIKATOR
Yoh 6: 1 – 14 menceritakan Yesus memberi makan 5000 laki-laki beserta keluarganya hanya dari 5 roti dan 2 ikan. Cerita berawal dari Yesus yang berniat memberi makan mereka, dan melemparkan solusinya kepada murid-murid-Nya melalui Filipus. Dengan spontan dia potong jalan keluar tersebut, bahwa mustahil memberi makan mereka secara mendadak.
Tidak demikian dengan Andreas salah satu di antara murid-murid tersebut. Dia sangat jeli menarik perhatian yang luput dari pengamatan kebanyakan orang. Semua orang di situ pasti tahu ada anak yang membawa 5 roti dan 2 ikan. Siapa juga yang tertarik dengan makanan bekal anak-anak. Tetapi, Andreas menarik objek tersebut, dengan memberi usul, bahwa ada anak yang membawa roti 5 dan 2 ikan. Andreas tahu kapasitas Tuhan dengan bekal anak kecil ini.
Andreas telah mengkomunikasikan sesuatu yang terbatas menjadi tidak terbatas, 5 roti dan 2 ikan menjadi makanan 5000 orang lebih dan sisa 12 bakul.
Demikian juga apa pun yang ada pada kita; talenta, bakat, kemampuan dan lain-lain yang mungkin tidak terlihat oleh kebanyakan orang, kelihatannya sedikit dan tidak berarti tetapi apabila kita gunakan untuk Yesus maka akan berubah menjadi luar biasa bahkan dapat memberkati banyak orang.
Oleh sebab itu kita harus mengkomunikasikan, menyatakan apa yang ada pada kita kepada Tuhan sehingga Tuhan melipatgandakannya, dan mujijat terjadi.
3 KATALISATOR
Paduan antara fasilitator dan komunikator akan menghasilkan sebuah katalisator: seseorang yang menginspirasi, menembus ke dalam, menjadi media, pelaku, mengambil peran, memotivasi, mempunyai empati, tahu kebutuhan dan berusaha memenuhinya.
Ketiga karakter ini bekerja dalam diri Paulus selama 14 tahun, baru sesudah itu orang mengakui sebagai Rasul. Demikian juga perempuan Samaria yang menjadi pelacur (di Yoh 4) setelah diselamatkan Yesus dia menjadi membawa pesan sehingga seluruh kota itu berubah.
Kita perlu Andreas-Andreas dalam kehidupan ini di manapun juga, yang membawa pesan untuk orang banyak supaya mereka bertemu dengan Yesus secara pribadi.
Dan ini adalah sebuah panggilan bukan pilihan berarti kita pun juga harus menjadi fasilitator, komunikator dan katalisator.